Sadhu.. Jangan lagi ya, nak.. Ibu takut

Kejadian 1 menit kemarin.. 1 menit yang saya kira adalah akhir dari hidup saya.

Sadhu mendadak kehilangan suaranya, matanya terpejam, wajahnya memutih pucat, lemas. Bibirnya membiru dan kesadarannya hilang.

Kemarin malam.. detik-detik paling mengerikan itu masih terus-terusan terlintas di kepala saya.

Jam memang sudah lewat dari jam 9 malam. Tapi dalam hati saya pikir, ‘biarlah Sadhu (8 bulan 3 hari) puas bermain sampai dia mengantuk.’ Saya temani dia, tidak ada jarak barang sejengkalpun antara tempat saya duduk bersila dengan posisi dia merambat-rambat di dekat sofa.

Sampai akhirnya dia hilang keseimbangan saat mencoba berdiri dan terjatuh. Saya, refleks menarik tubuhnya secepat mungkin untuk menghindari kepalanya dari terbentur lantai.

Seperti biasa, setiap kali menangis, Sadhu pasti punya ancang-ancang sebelum tangisnya pecah hingga suara tangisnya (yang memang super nyaring) itu mengisi seluruh rumah.

Sambil dia berancang-ancang itu, saya masih tenang-tenang sambil memeluknya ‘ayo Sadhu, nggakpapa nakk.. nggak papaa..”

Saya peluk dia sampai saya menyadari: kali ini BEDA. Ancang-ancang Sadhu lebih dari 5 detik. Suara tangisnya yang nyaring itu tidak kunjung keluar dari mulutnya. Dan selama itu pula ia tidak mengeluarkan suara, mata terpejam, hingga akhirnya wajahnya memucat. PUCAT. PUTIH PUCAT. lalu berubah membiru. lalu bibirnya menghitam.

PANIK. Saya berteriak-teriak menyebut nama Sadhu. Suami lalu mengambil Sadhu dan memberikan napas buatan ke dalam mulut Sadhu sambil terduduk di lantai. Saya.. Saya tidak sanggup melihat Sadhu yang terkulai lemas, pandangannya kosong dan perlahan memejamkan matanya.

Saya berpikir harus cepat-cepat membawa Sadhu ke rumah sakit. Tapi jujur..Kepanikan saya malah menghalangi kaki saya bergerak. Panik cuma membuat saya mondar-mandir sambil teriak-teriak nggak karuan. Saya tidak bisa membayangkan kalau ini terjadi pada saat saya hanya berdua dengan Sadhu di rumah. Entah apa jadinya..

Akhirnya.. Sadhu akhirnya ‘kembali’. Dia tersadar dan dipeluk ayahnya. Saya lega, tapi hanya bisa terduduk dan akhirnya..menangis histeris. Mengingat kejadian tadi, saya tidak akan kuat kalau sampai terjadi apa-apa dengan anak saya. Saya bisa gila. Saya.. ahh.. segala macam pikiran buruk memenuhi kepala.

Sadhu kembali ke pelukan saya. Sambil menatap matanya lekat, dan masih sambil terisak-isak saya coba menyusui Sadhu. “Jangan begitu lagi, nak.. tolongin ibu..”

Kemudian Sadhu terlelap, sementara saya masih terpaku dengan pikiran melayang ke mana-mana.

Saya dan suami berdiskusi panjang. Ada apa dengan Sadhu? Jantung kah? Apa?

Akhirnya kami berdua mencoba Google. Search ke sana sini mengantarkan kami ke: “Breath Holding Spells”

Ini video YouTube milik seseorang yang mirip sekali dengan kejadian yang dialami Sadhu semalam.

Membaca hasil pencarian kami di Google, ada perasaan sedikit lega karena ini merupakan hal yang lumrah dialami bayi usia bulanan hingga maksimum 2 tahun. Bahkan untuk beberapa orangtua, mereka sudah terlihat terbiasa ketika menghadapi kejadian serupa.

Besok, saya dan suami memutuskan untuk tetap berkonsultasi dengan DSA kami.

Sementara itu, saya bersikeras untuk lebih berhati-hati menjaga emosi dan perasaan anak semata wayang saya ini. He must stay happy. Kalo nggak mau makan, saya nggak akan paksa lagi. Kalau dia mau main, saya tidak akan lagi membatasi.

Semoga kejadian seperti kemarin tidak ada lagi ya, Sadhu..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Allah anugerahkan kami amanah itu…

Hari itu, Rabu 8 Desember 2015. Perasaan saya campur aduk. Takut karena terus membayangkan berbagai ukuran jarum suntik, lalu jarum infus, lalu jarum bius di punggung yang katanya besar, lalu meja operasi lalu pisau sayat. Duh..banyaakkk.

Tapi anehnya, walaupun itu semua berkutat mondar mandir menghantui pikiran, langkah kaki ini justru terasa begitu ringan—bahkan bisa dibilang itu adalah satu-satunya hari dimana saya merasa begitu semangat padahal tujuannya, ke RUMAH SAKIT!

Rasanya kok seperti mau pergi ke hotel?! Packing sudah dari jauh-jauh hari, mulai dari siapin baju-baju sampe bawa semua perlengkapan dan wangi-wangian aromaterapi yang biasa saya pakai di rumah.

Malam pertama di ruang rawat inap rumah sakit, suster mem-brief saya dengan ‘rundown‘. Pertama, puasa makan minum mulai pk. 12 malam, kemudian harus sudah ready jam 5 pagi—yang artinya, harus sudah mandi dan rapi, lalu siap untuk dibawa menuju ruang operasi untuk tindakan setidaknya pk. 6.30 pagi.

Malam itu saya berkali-kali terbangun dan melihat jam dinding. Sampai akhirnya alarm yang saya buat di smartphone pun tidak ada gunanya. Setel alarm pk. 4 pagi, mata badan pikiran saya sudah ‘segar’ tak bisa terlelap lagi mulai dari pk. 3 pagi. Saya menghitung mundur waktu.

Takut. Senang. Takut. Senang. Begitu terus bergantian.

__________________

Mama dan mbah putri datang pagi-pagi sekali sebelum saya dibawa ke ruang operasi.

Saya minta doa, yang terutama sama mama.

Sahabat-sahabat pun berdatangan. Eka, Nesa dan Yeni yang datang dari jauh menghampiri saya pas sesaat sebelum masuk ruang operasi. Semua memberikan dukungan.

Saya tahu, diantara semuanya, alasan inilah yang paling menguatkan saya: “Saya akan segera bertemu Sadhu.”

38 minggu berlalu. Hari-hari menakjubkan membawa Sadhu di dalam perut ke mana-mana akan segera berakhir dengan sebuah “perjumpaan” yang sesungguhnya.

___________________

Rabu pagi, 9 Desember 2015.

Hampir 10 tenaga medis ada di dalam ruangan operasi. Semuanya mengenakan masker dan kostum hijau. Salah satunya ada yang berkali-kali berkata: “Berdoa ya, bu.” “Berdoa ya, bu.”

Saya balas dengan anggukan. Berkali-kali. Saya baca surat Al-Fatehah. Berkali kali. Memasrahkan semuanya.

Dokter Anestesi meminta saya relaks sebelum menusukkan ampul biusnya.

Sekejap kemudian semua yang ada di dalam ruangan operasi sibuk dengan tugasnya masing-masing. Perut sampai ke kaki tidak bisa saya rasakan. Saya memasrahkan semuanya pada para dokter.

Supaya tidak bisa mendengarkan kegaduhan di dalam ruang operasi, saya sengaja pasang playlist yang sudah saya siapkan sejak semalam dengan earphone.

Entah berapa lama..

Mata saya terasa berat sekali..

Di telinga terdengar lagu “What a wonderful world..”

Tidak tahu kenapa,

Pikiran saya enteng.

Kekuatiran apapun hilang.

Sampai akhirnya dokter mengangkat sesosok bayi di depan saya..

“Ini bayinya ya bu.”

Setengah sadar sambil menahan kantuk, saya mengangguk. Dalam hati saya ucapkan berkali-kali “Alhamdulillah..”

Tidak lama, mereka datang lagi, mereka sudah menyelimuti Sadhu.. lalu menempelkan pipinya di pipi saya.

Putih. Wajahnya bulat. Saya cium berkali-kali.

Rasanya masih tidak percaya. Allah berkahi saya dan Jaka sebuah amanah yang besar dan indah. Tidak percaya bahwa ternyata Allah menilai saya dan Jaka mampu—Ia mempercayakan Sadhu pada kami berdua.

Tugas yang besar. Nikmat yang juga besar. Daripada-Nya.

____________________

Mereka ‘membereskan’ saya dan memindahkan saya ke ruang pemulihan.

Saya hanya memandangi langit-langit ruangan. Tirai putih. Petugas medis mondar mandir keluar masuk ruang operasi.

Jaka datang menghampiri saya.. laki-laki humoris yang paling anti-drama ini matanya berkaca-kaca.

Saya tanya, “Kamu udah liat?”

Dia mengangguk lalu memeluk saya.

IMG-20151211-WA0005

Sadhu Alangkara Dharma

Terima kasih, ya Allah… Terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

30 minggu. Hari-hari menahan nyeri PGP sekuat tenaga.

Katanya sih, nggak semua ibu hamil mengalami ini: Sakit nyeri di tulang bokong, kaku dari paha sampe betis, sampe-sampe kalo salah gerak sedikit aja, napas tiba2 harus terhenti kyk orang kena serangan jantung.

Dulu, waktu trimester pertama, sementara orang-orang lain mungkin akan mual-mual luar biasa, saya justru anteng-anteng aja. Tanpa mual, tanpa muntah-muntah. Keluhannya cuma satu: nggak napsu sama sekali minum susu sapi dan susu ibu hamil. Makan pun milih-milih.

Trimester ke-2 adalah masa-masa paling bebas. Napsu makan kembali seperti sedia kala, nggak ada nyeri-nyeri di tulang, dan sebagainya. Jalan kaki pun masih bisa kayak preman yang petantang petenteng gitu.

Eh sekarang, sejak menjelang bulan ke 7, mau duduk susah, mau ngebungkuk ambil koin yang jatoh rasanya mustahil, dari duduk ke berdiri susah, keluar masuk mobil jadi perjuangan, mau duduk di pispot pun harus slow motion kayak siaran ulang goal-nya Lionel Messi.

“Dinikmati aja..” kata temen-temen yang udah berhasil ngebrojolin anak pertama. Kalimat penguatan ini mungkin masih bisa dimentahin ya dengan “ya senikmat-nikmatnya, tetep aja gw berkali-kali hampir nangis tiap nyerinya nyerang.”

Nah kalo udah ketemu kalimat ini gimana..?!

“Itulah perjuangan mama waktu hamil kamu.” Jedeeerrrr! kalo mama udah ngomong gitu, ya udah deh ya, diam adalah reaksi terbaik buat lo.

Masih ada sisa 10 minggu lagi kurang lebih. Pengen cuti lebih awal dari kantor nggak mungkin, karena sayang–mendingan cuti dipake buat nanti masa-masa menyusui. Akhirnya satu-satunya opsi adalah; dijalanin aja sekuatnya. Dan iya, dinikmati.

Bos di kantor sih udah nanya, “kamu kuat nggak nunggu sampe due-date?” Yaaaa, doain aja pak yaa.. harus kuat sayaaah.

Buat bumil-bumil lainnya yang mungkin ngalamin nyeri di sepanjang tulang bokong sampe kaki, mungkin bisa baca artikel ini nih. Ternyata istilahnya adalah Pelvic Grindle Pain (PGP) alias nyeri di sekujur tulang panggul. Kebetulan, artikel ini merincikan kasus PGP persis sama yang terjadi sama saya. Dan ternyata bisa diringankan dengan gerakan-gerakan olah raga sederhana. Semoga bermanfaat yah.

Nyeri pada punggung bagian bawah merupakan keluhan yang umum ditemukan pada 50-80% wanita hamil. Terdapat 2 jenis nyeri punggung bawah pada saat kehamilan yaitu:

  1. Nyeri daerah lumbal : nyeri biasanya dirasakan di bagian punggung belakang sekitar daerah pinggang
  2. Nyeri panggul belakang : nyeri dirasakan di daerah panggul ke bawah dan biasanya sering dirasakan di daerah tulang ekor atau bokong dan dapat menjalar ke paha belakang

Berdasarkan keluhan yang Anda kemukakan kemungkinan Anda mengalami nyeri panggul belakang yang biasa dikenal sebagai pelvic grindle pain (PGP). PGP disebabkan oleh kekakuan sendi panggul. Pada saat kehamilan tubuh akan memproduksi hormon relaksin. Hormon ini berguna untuk melenturkan ligamen (jaringan antar sendi) sehingga memudahkan proses kelahiran bayi. Namun hal tersebut ternyata membuat pergerakan antar sendi ibu menjadi lebih tidak stabil. Ketidakstabilan dan kekakuan sendi inilah yang menyebabkan keluhan nyeri. Peningkatan berat bedan saat kehamilan juga berperan terhadap timbulnya nyeri panggul dan tulang ekor.

PGP dapat terjadi sejak awal kehamilan atau dapat pula baru muncul saat kehamilan trimester akhir. PGP diperberat dengan perubahan posisi. Beberapa perubahan posisi yang dapat menimbulkan dan memperberat PGP antara lain:

  • berguling di kasur
  • menaiki tangga
  • duduk dan berdiri dari posisi duduk (contoh: saat masuk dan keluar mobil, bak mandi dan kasur)
  • mengangkat benda berat
  • membungkuk, manuver memutar pinggang
  • berjalan dan berlari

Pekerjaan yang mengharuskan duduk lama seperti bekerja di depan komputer serta membungkuk dan berdiri dapat meningkatkan risiko nyeri panggul pada kehamilan.

Keluhan nyeri ini akan berangsur-angsur pulih setelah Anda melahirkan. Terdapat beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi dan mengatasi nyeri:

  • melakukan senam memperkuat otot dasar panggul, perut
  • hindari mengangkat beban terlalu berat
  • ketika berjalan sebaiknya Anda melengkukan tubuh (seperti membusungkan dada) Anda dengan tangan yang mengayuh di samping agar postur lebih stabil. Hindari postur tubuh membungkuk.
  • tidur dengan posisi miring dan tanbahan bantal di antara kaki
  • istirahat yang cukup

Anda dapat melakukan konsultasi ke dokter kandungan dan kebidanan bila keluhan dirasa sangat mengganggu. Dokter dapat menyarankan penggunaan penyangga panggul atau fisioterapi untuk menstabilkan sendi. (Sumber : klikdokter.com)

Tulisan ini bukan keluhan. Tapi lebih ke..curhat dan berbagi. Supaya nanti di saat masa kehamilan udah berlalu, saya masih bisa ingat masa-masa “unik” ini. Nyeri dan sakitnya emang kadang-kadang bikin kesel, tapi demi momentum menakjubkan yang menanti di ujung sana, sakit dan pengorbanan sehebat apapun, insyaAllah tidak akan ada artinya.

Good luck, Popon!

Namanya sih putri. standar ya?! nama sejuta umat deh. nah mgkn maka itulah kita semua lebih seneng manggil dia “popon”, di samping (konon katanya) nama itu sebenernya berawal dari gaya poninya di jaman dulu jauh sebelum kita kenalan.

pertemanan kita wkt itu diawali dngn kesan tak terlupakan. ceritanya, 2 th yang lalu sekitar Juni 2013, wkt kita sama2 anak baru di kantor ini–kita berdua diundang untuk ikut acara pelatihan distributor di puncak. (ya maklum perusahaan MLM, jd banyak acara pelatihan di luar kota).

dipasangkanlah gw sama popon di satu kamar hotel. dalem hati, “ah ada temennya ini, jadi ga lumayan lah ga bakal ‘diplonco’ sendirian.”

sampai di hari H, ternyata mba2 yg namanya Putri itu ga bisa ikut ke acara pelatihan. Oke deh, gw menempati satu kamar hotel besar yang lampu kamarnya redup remang2 ga niat, plus ‘view’ jendela menghadap tembok tinggi yang dibaliknya banyak pohon yang juga tinggi.

udah cukup belom nih penggambaran horornya? entah parno atau apa, yg paling gw inget waktu itu adalah–gw susah tidur. kemudian diwarnai dengan suara gagang pintu kamar diguncang seperti ada yang memaksa mau masuk. plus, hal yang paling gw inget diantara semua itu adalah: ketidakhadiran Poponn..!

Mau minta temenin sama temen2 kantor yang lain, gengsi bercampur malu2 kucing. ~kan baru kenal sehari.

-Ya udah, pasrah.

Akhirnya,1 Juli 2013, ketemu beneran deh sama si Putri yang telah menelantarkan diriku. Itu hari pertama kita di kantor menakjubkan ini.

Pasti penasaran kan gimana si Putri ini? Nah, Juli 2016 besok kita bakalan 3 tahun kerja bareng. Etapi, di usia pertemanan yang singkat ini ya pon, lo akhirnya memutuskan untuk ambil tawaran di kantor yang jauh lebih menakjubkan. *ya iyalah lebih menakjubkan. dari segala sisi. kecuali sisi pertemanan ya..

Karenaaaa..dijamin 100%, lo ga akan menemukan teman-teman yang gila seperti kita di tempat lain. Yang ga pernah akan hilang  semangat, ketika: MENGGOSIP.

ketika : makan bakmi Roxy bareng

ketika : komplen ribuan kali bosen makan di foodcourt tapi ya kok tetep rakus.

ketika : memaklumi kebiasaan boker lo tiap 3 detik setelah makan.

ketika : harus saling minjemin duit ketika males ke atm. *males liat saldo intinya

ketika : hobi rame2 konvoi jalan ke Bogor dan merumput.

ketika : harus dan maugamau ikut happy di tengah berbagai pelatihan distributor

ketika : bareng2 komplen soal report, yang bukannya dikerjain tp malah nyender lama di bangku ngeliatin layar komputer yang isinya Lazada, Pink Emma, Berry Benka sambil tambah mumet ngeliatin tumpukan koleksi sepatunya mba Ira di kolong. *eh tau2 aja bbrp hari kemudian ada paket nyampe di meja lo.

ketika : briefing pagi dengan perut keroncongan

ketika : harus dengerin nyanyian oppa yang udah kyk saepul jamil KW.

ketika : nyelain kita2 kaga pake rem trus pake logat Condet tapi kita tetep manis, boro2 marah.

ketika : puas ngetawain mamahdes sama hobinya nyanyi ST 12 sambil nyeletuk ‘asik’ eh ga taunya mewek

ketika : terpana tiap kali Japra membela mati2an lembaran/koin 1000 peraknya.

ketika : perilaku premanismenya fei2 kumat tiap kali dia kelaperan.

ketika : senandung aneh dari sasa mulai keluar

dan ketika : betapa bijaknya gw dan sll menentramkan hati lo. 😀

banyak ya pon.. *gue udah nyari2 tisu tp ga ktemu2. ya udah pake baju aja.

-ok, buang ingus.

ah masih byk lagi!

Sakses ya poon, di tempat baru. di kota baru. di apartemen/kost baru. di pertemanan yg baru. di posisi yang lebih kece. dan di nominal yg baru.. *caelahhh

Tetep easygoing, tetep seleboran kalo nyetir, tetep cuek daann tetep belanja online!

Thanks buat semua traktirannya pon. Traktiran dobel, lebih tepatnya. Thanks udah ngajak kita semua jalan2 sekeluarga di hari Minggu. Seru. Kenyang. Happy! Lelah, but that doesn’t count at all.

Be happy always ya pon. We all love you. See you when we see you!

oya, pesen trakhir dr gw :

*Doain Fei2 cepet dapet jodoh. loh?!

IMG-20150830-WA0003

Yang telat bisa ya senyum-senyum gituuu???!!

IMG-20150830-WA0006

Sampeeee! langsung poto-poto!

IMG-20150830-WA0009

IMG-20150830-WA0010

Thanks botolnya mba Ira, sempurna menutupi wajah guweeeee

IMG-20150830-WA0033

Teh Elly jualan pecel dulu makk!

IMG-20150830-WA0034

IMG-20150830-WA0051

IMG-20150830-WA0053

IMG-20150830-WA0032

Kimmy on pose

IMG-20150830-WA0035

ca elahhhh… Rayyan usaha dehhh

 IMG-20150830-WA0041

IMG-20150830-WA0042

IMG-20150830-WA0016

Nasi mana nasi?????

IMG-20150830-WA0013

Mas-mas di belakang Rifka sadar kamera amat sih.. grrr

IMG-20150830-WA0015

Sejuuukkk (airnya)

IMG-20150830-WA0019

Poto sama artis. Ketemu ga sengaja diantara bebatuan.. :p

IMG-20150830-WA0018

Kimmy kebauan apa ya?

IMG-20150830-WA0046

Kakak Rira sama Kimmy udah kuyup ajaaaa >.<

IMG-20150830-WA0012

IMG-20150830-WA0047

IMG-20150830-WA0048

Cerah banget yaaa..

IMG-20150830-WA0023

Terima kasih makan-makan bersama-nya yaa Poon

IMG-20150830-WA0022

Lelah tapi senaaangggg!! Sedih deh harus berpisah.. dipake ya sweaternya pooon supaya inget2 sama kita terus.

IMG-20150830-WA0024

Setelah berpisah dengan rombongan, ternyata Popon masih laparrr

Menjelang genap enam bulan

“Udah siapin apa aja buat si kecil?”

“Minum susu hamil nggak?”

“Banyak-banyak deh minum susu kedelai atau air rebusan kacang ijo, biar nanti kulit si baby putih bersih.”

“Lo jangan kontrol di rumah sakit A lho. Temen gue pengalaman di sana anaknya jadi sakit-sakitan. Belum apa-apa anaknya udah dikasih sufor tanpa sepengetahuan ibunya.”

Jaman serba informatif begini, kita emang seakan-akan dibuat nggak berdaya dengan kabar-kabar yang membombardir di kanan kiri, depan belakang. Pusing? Iya. Tambah kuatir? Pasti. Mikirin, “masa iya sih?”, “bener begitu nggak ya?”

“Terus gue mesti nurutin yang mana dong??”

Jujur aja, yang paling gue pikirin soal si jabang bayi ini cuma satu: “Dia harus jadi bayi ASI eksklusif, apapun halangannya.”

Sekarang, di usia kehamilan 23 minggu, yang paling menggembirakan adalah; nafsu makan udah kembali seada2nya. Pengen banget makan karbo sebanyak-banyaknya sampe kenyang. Padahal, kemaren-kemaren liat lauk apa aja nggak nafsu. Apalagi liat susu.. ya walaupun susu sampe sekarang juga masih susah banget masuk perut.

Tapi suplemen jalan terus, mulai dari Transfer Factor, kalsium, sampe DHA. Buah2an pun rutin setiap hari. Ya pokoknya insyaAllah si kecil sehat.

Kalo masalah sakitnya lahiran, mau itu C-Section atau Normal, mari serahkan saja pada Yang Maha Berkehendak. Cuma itu yang bikin hati ini santai dan adem ayem.

Lagi, ada satu hal yang juga gue syukuri beberapa hari belakangan; Allah bener2 udah kasih suami yang perhatian, sayang, dan kasih kenyamanan tiap hari walaupun si istri suka ngomel-ngomel dan cranky ga karuan. Herannya, kecupannya ga pernah terlewat tiap pagi n malem menjelang tidur. Ga cuma ke ibunya tapi juga ke si calon bayi yang di dalem perut. Pelukannya yang walaupun suka bikin sesek napas gara2 kegencet, tapi selalu menghangatkan. Ahh.. makasih ya hunny. *jd pengen nangis*.

Gimana ya, rasanya masih suka aneh karena sekarang ngelewatin hari2 hanya berdua. Laper berduaan, bokek berduaan, seneng berdua, susah berdua. Dulu kan masih bisa selalu pulang ke rumah, laper tinggal makan, kesel tinggal minggat. hehe ga segitunya jg sihh.

Udah deh ya, daripada kebanyakan mikir, lebih baik nabung terus buat kebutuhan si baby besok. Sedikit demi sedikit dipenuhi, ga perlu fancy, tapi yang penting cukup. Seperti juga kata papa, “Soal anak itu udah nggak ada lagi yang bisa mengendalikan kecuali Tuhan. Kita cukup mengusahakan yang terbaik aja.”

Ah.. I can’t be more agree 🙂

POsitif! E..tapi kok galau?

Jpeg

doubled red lines!

Hari ini udah masuk di bulan ke empat, tepatnya, 15 minggu 4 hari. Iya, itu artinya si “wiwin and jaka production” ini udah mau masuk usia janin 5 bulan. Pengen nulis dari awal tapi ya gimana, ini baru kesempetan buka blog (lagi) dan punya niat untuk cerita lagi di sini.

Kalo ngomong soal perasaan sih, yang pasti ya seneng, karena ternyata saya sama suami dikasih kepercayaan juga sama Allah untuk punya keturunan. Walaupun harus melalui pertanyaan bertubi-tubi dari orangtua, temen-temen dan kerabat “udah isi belom? udah isi belom?” Stres sih nggak, tapi lebih ke… bertanya ke diri sendiri “kok belom juga ya? apa salah gaya ya? apa gue kecapean ya?”

Yahh.. akhirnya setelah 10 bulan selang resepsi, muncul juga nih tanda “positif” di test-pack.

Nah, sejak tau hamil, perasaan lebih cenderung ke… “ayo jalanin aja seperti biasa, jangan panik, jangan kebanyakan mikir, santai aja sampe nanti lahiran!” Ya udah deh, jadinya ya semua dijalani aja, nggak kebanyakan worry kanan kiri, cari tau info kanan kiri–ya abis, kalo ngobrol sana sini apalagi soal lahiran yang dana nya segitu luar biasanya, kepala mendadak jadi pusing. Hahaha.

Buat kita, yang penting periksa ke dokter rutin dan sama-sama kita jaga sebaik-baiknya.

Tapi, isu yang paling menyita pikiran selama kehamilan ini adalah lebih pada hal tugas menyusui selama 2 tahun, daripada ke soal lahiran caesar atau normal yang emang udah pasti menakutkan itu.

Soal melahirkan, buat saya, semenakutkan sesakit apapun melahirkan, toh semua perempuan harus siap dan ternyata mereka bisa melalui itu dengan sukses. Ya baik caesar maupun normal. Malah ada yang sampe hamil dan melahirkan beberapa kali walopun ga sedikir yang bilang di awal ; “saya kapok melahirkan! sakitttttnya setengah matiii!”. Ya udah, sesimple itu aja saya mikir. Tapi kalo soal amanah memberikan ASI, ga semua perempuan berhasil dalam hal yang satu ini.

Jadi nggak heran, soal ASI inilah yang jauh lebih menyita pikiran saya setiap hari. Tantangannya banyak–harus kerja dengan jam kerja dari jam 10.45 sampe jam 20.00, durasi pulang pergi total 4 jam lamanya–yang artinya waktu saya seharian sudah harus tersita dengan urusan pekerjaan. Ditambah lagi, jarak rumah ke kantor yang jauh (Bogor-Jakarta-Bogor). Gimana dengan tenaga? Dengan aktivitas yang segitunya, apa ASI saya nanti masih bisa keluar? Kesampean ngga ya sampe 2 tahun? Anak di rumah nanti siapa yang jagain? Masa cuma sama si mbak?

*Berenti kerja aja?*

*Cari kerjaan baru di Bogor?*

*Hunting apartemen di Jakarta?? Umm.. ngontrak rumah kali ya?*

Aduh tuh kan, kepala mendadak mumet lagiiii…

Tapi semumet gimana juga, waktu terus berjalan. Hari yang dinanti sekaligus dikuatirkan ya akan tiba juga pada akhirnya. Akhirnya saya selalu menghibur diri dengan mengatakan “Udah, pasti bisa. harus bisa Win..”

Ah, semoga segera ada jalan keluar terbaiknya ya.. Doakann.

Suami, Prestasi dan Amerika

Aku semakin percaya.. ketika kita bekerja dengan hati, integritas, jujur kepada nurani dan orang lain, mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran yang ada, maka yang akan kita terima bukan hanya upah. Tetapi juga rekognisi, apresiasi dan PRESTASI.

Ini bukan soal saya. Tapi soal seseorang yang luar biasa. Suami saya. Jaka Dwi Darma Atmadja.

Senin lalu, 9 Feb 2015 dia mengabarkan saya lewat whatsapp. Isinya screen capture email seperti ini:

image

Ya! Suami saya ditugaskan ke Amerika Serikat!!! Tidak ada kabar lain yang lebih membahagiakan dari ini sepanjang karier saya sebagai penulis.

8 tahun pengalamannya sebagai juru kamera, pernah bekerja di stasiun televisi nasional RCTI, TV One dan sekarang sudah nyaris 1 tahun bekerja di RTV, kini akan semakin terasah melalui kesempatan besar.

Tanggal 14 Maret 2015 atau sekitar 3 minggu lagi, dia akan menginjakkan kakinya di negeri Paman Sam.

Tanpa disadari, mungkin inilah yang selama ini ‘ditabung’ oleh suami saya. Seperti yang dikatakan atasannya melalui email di atas tadi: “etos kerja, penguasaan kamera, kreativitas dan kemampuan berbahasa”.

Selamat ya sayang!

image